Sponsors Link

9 Efek samping ARV Pada Ibu Hamil yang Harus Diwaspadai

Sponsors Link

Proses terjadinya HIV AIDS diawali dari penularan virus HIV. HIV AIDS merupakan sebuah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Orang yang terinfeksi HIV harus menjalani pengobatan seumur hidup untuk menjaga sistem kekebalan tubuh agar tidak terinfeksi virus lain. Pengobatan dengan obat ARV memiliki sejumlah efek samping yang bisa dirasakan oleh pasien.

ads
  1. Reaksi hipersensitive

Reaksi hipersensitive akibat mengonsusmi obat obatan sangat umum terjadi.  Reaksi tersebut antara lain demam, muntah, mual, alergi. Adanya reaksi hipersensitive  bisa diakibatkan oleh beberapa faktor risiko HIV AIDS yang mana seseorang yang baru pertama kali mendapatkan pengobatan ARV, seseorang dengan riwayat alergi makanan maupun obat- obatan, riwayat keluarga dengan alergi ARV. Pasien dapat mengalami reaksi hipersensitive tanpa gejala sistemik yang ditandai dengan ruam, demam, pegal-pegal, nyeri sendi.

  1. Perdarahan

Perjalanan penyakit HIV AIDS bisa menyebabkan efek samping ARV pada ibu hamil yang berpa pendarahan. Saat wanita hamil terutama padi trimester pertama pendarahan sangat umum terjadi. Namun jiak perdarahan yang terjadi tak kunjung berhenti dan dengan intensitas yang tinggi lebih baik untuk memeriksakanya ke dokter untuk memastikan kehamilan dalam kondisi baik-baik saja.

  1. Kerapuhan tulang

Proses atau cara penularan AIDS bisa menyebabkan kerapuhan tulang. Kerapuhan tulang terjadi ketika sel tulang mengalami pergantian, dimana sel tulang tulang yang hancur jumlahnya lebih banyak dibandingkan sel tulang baru. Pengeroposan tulang dapat menyebabkan peningkatan resiko cidera dan patah tulang.

  1. Peyakit jantung

Efek samping ARV pada ibu hamil bisa beresiko meningkatkan penyakit lainnya. Penderita AIDS hamil bisa beresiko terkena penyakit jantung semakin meningkat dan dapat menyebabkan kematian. Penggunaan terapi antiretrovirus yang sangat aktif  dengan Inhibitor Transkriptase balik Nukleosida (NRTI) dapat mengubah penyakit HIV menjadi penyakit yang dapat dikendalikan.

Obat pengganti ARV berupa NRTI justru meningkatkan resiko serangan jantung lebih besar. Penggunaan NRTI dalam terapi antiretroviral memunculkan kardiovaskular pada penderita HIV yang dapat memicu lipodistrofi yang merupakan retribusi lemak tubuh dalam tubuh pasien. Lipodistrofi ini dapat menyebabkan penumpukan lemak dibagian tubuh lain seperti belakang leher, perut, wajah, payudara, bokong serat tungkai.

  1. Gula darah tinggi

Kadar gula darah berkaitan dengan banyaknya masalah kesehatan jangka panjang, termasuk diabetes tipe-2. Penggunaan obat HIV seperti nukleosida reserve transcriptase inhibitor (NRTI) dan protase inhibitor (IP) dapat meningkatkan resiko daibetes tipe 2 pada penderita HIV. Obat-obatan HIV membuat tubuh menjadi lebih sulit untuk merespon dan menggunakan insulin (resistensi insulin).

Resistensi insulin menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat yang memicu diabetes tipe 2. Diabetes adalah penyakit dimana insulin dalam tubuh rusak atau tidak dihasilkan sama sekali oleh tubuh. Insulin adalah hormin yang bertugas untuk mengolah gula dalam darah. Hormon insulin bertugas memindahkan glukosa ke sel dalam darah. Gangguan insulin menyebabkan gula dalam darah mengalami peningkatan.

Sponsors Link

  1. Asidosis Laktat

Asidosis laktat adalah kondisi penumpukan laktat dalam tubuh.Laktat merupakan limbah yang dihasilkan ketika gula diubah menjadi energi oleh tubuh. Gejala yang timbul termasuk  perasaan sakit, lelah, kehilangan nafsu makan, dan nyeri perut. Hal ini dapat menyebabkan masalah mulai dari nyeri otot sampai gagal hati.

  1. Kerusakan ginjal, hati atau pakreas

Gejalanya termasuk nyeri perut, urin berubah warna menjadi gelap. Ketika buang air besar berubah warna menjadi lebih terang atau seperti tanah liat. Penggunaan ARV untuk mengobati penyakit HIV dapat menyebabkan infeksi yang menyerang penyakit ginjal. ARV  jenis protase inhibitosrs indinavir dan latazanavir dapat berpotensi menimbulkan batu ginjal. Nucleoside reseerve transcriptase inhibitors (NRTIs) berpotensi menimbulkan asam lambung yang dapat menimbulkan gangguan pada ginjal.

Kerusakan hati akibat ARV dapat terlihat dari beberapa gejala seperti nyeri perut, urin berwarna gelap dan  tinja berwarna terang, mata dan kulit terlihat berwarna kuning, merasa mual atau muntah. Gangguan pada hati biasanya mulai dirasakan pada enam minggu pertama pengobatan.

Sponsors Link

  1. Gangguan Saraf

Neuropati perifer (PN) atau kerusakan saraf pada tangan dan kaki yang disebabkan oleh konsumsi obat-obatan HIV seperti d4T,ddl, ddC, dan 3CT.  Gejala gangguan saraf ini biasanya ditandai dengan kesemutan ringan atau mati rasa. Gangguan saraf ini bisa dihentikan dengan cara berhenti mengonsumsi obat-obatan yang bisa memicu. Gangguan saraf ini sangat mengganggu terutama pada ibu hamil karena dapat mengganggu pergerakan si ibu dan juga berpengaruh pada janin.

  1. Lipodistrofi

Lipodistrofi mengacu pada perubahan sel-sel lemak dan penyebaran lemak dalam tubuh. Hal ini dapat mempengaruhi perubahan kadar lemak dan gula darah. Lipodistrofi bisa menyebabkan kehilangan lemak pada lengan, kaki dan wajah atau mendapatkan lemak di perut, payudara atau di bahu.

Peningkatan kadar lemak darah dapat meningkatan resiko penyakit jantung dan kolesterol. ARV didalam tubuh akan menyebabkan terganggunya lemak dan energi, sehingga akan terjadi penimbunan lemak dan peningkatan kadar kolesterol serta trigliserida.

Kami sarankan pada ibu hamil yang mengalami HIV AIDS dapat mengikuti program CST dan VCT untuk membantunya mengatasi problem yang mungkin saja terjadi di tengah-tengah masa kehamilannya.

, , , ,
Post Date: Monday 14th, January 2019 / 10:02 Oleh :
Kategori : Pengobatan